Pengennya sih rehat dari semua hal yang berseliweran di benak. Tetapi makin pengen rehat, malah yang terjadi makin bikin pusing kepala. Gimana pun juga—selama kita masih hidup—mau nggak mau kita tetap harus menghadapi semua yang kita temui. Seperti yang kamu juga rasakan sekarang ini, di semua tempat yang kita temui sesak dengan kampanye pilpres, piala dunia dan (masih berharap) semoga ada juga hingar-bingar syiar Islam. Namun apa daya, nampaknya masyarakat kita juga ikut-ikutan mabuk kampanye pilpres dan juga ditambah hajatan penggila sepak bola seluruh dunia yang digelar sebulan penuh.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia Al-amiin. Itu baru dua
persoalan besar yang bisa kita temui saat ini. Belum lagi masalah lainnya yang
sudah terbiasa hadir. Coba aja kamu inget-inget kalo nonton acara berita di
televisi atau baca koran dan majalah. Rasa-rasanya yang namanya kasus
pembunuhan, pelecehan seksual, depresi, kejahatan seksual, seks bebas,
pencurian, perampokan, narkoba, miras dan puluhan problem kehidupan lainnya
bikin puyeng kepala. Itu semua hadir di sini. Di sekitar kita. Kalo nggak kuat
nahan sih, bisa-bisa ubun-ubun kamu ngebul alias berasap dan siap meledak
(*lebay)
Sumpah, kampanye pilpres itu bikin muak dan menyebalkan. Bukan
karena saya nggak suka sama capres/cawapresnya lho. Tetapi yang saya benci 100
persen adalah sistemnya. Ya, sistemnya. Sistem demokrasi ini bukan saja
bertentangan dengan Islam, tetapi juga menentang Islam. So, siapa pun
presidennya nanti tetap aja yang jadi pemenangnya adalah sistem demokrasi.
Percuma saja kedua kubu yang saling berseberangan di antara pendukung
capres/cawapres saling serang di jejaring sosial dengan mengeluarkan caci-maki
dan kata-kata kotor, karena upaya mereka tak akan menjadikan negeri ini damai.
Justru sebaliknya, masyarakat jadi muak karena tingkah para pendukung calon
pemimpin tersebut malah ngajarin nggak bener. Gawat bener!
Nah, ngomong-ngomong soal syiar Islam, adakah gaungnya di antara
kampanye pilpres? Hehehe… jangan tanya soal itu Bro en Sis, sudah untung ada
bau-baunya dikit meski maksaian. Ya, paling-paling ada di antara pendukung
capres itu dari partai (yang ngakunya) Islam. Bawa-bawa label Islam dan
berteriak “Allahu Akbar”. Duh, sakit banget telinga karena teriakan yang
seharusnya berada di tempat yang benar itu malah dipake buat kampanye atau
pendukung capres yang tidak menerapkan syariat Islam. Silakan saja kamu
ingat-ingat dalam debat capres di televisi, apa ada dari kedua capres yang
berani dengan lantang ingin menerapkan syariat Islam? Padahal keduanya
(ngakunya) Muslim. Betul?
Sobat Al-amiin, walhasil nih, gelegar kampanye pilpres cuma
dijejali dengan janji-janji yang belum tentu bisa dipenuhi, umbar omong kosong
yang segera pula dilupakan saat semuanya berakhir. Setelah itu kembali rakyat
gusar menatap masa depan yang tak kunjung bisa dirasakan bahagianya. Bahkan
mungkin bermimpi dan membayangkan rasa bahagia saja sudah takut dan khawatir
karena bisa jadi tak akan bisa dirasakan. Ya, inilah ironi negeri demokrasi.
Sepertinya di luar semua tampak baik-baik saja, padahal di dalamnya busuk dan
berpenyakit. Mengerikan!
Bagaimana dengan Piala Dunia, apakah ada syiar Islam di dalamnya?
Hadeeeuhh.. kamu kok nanyanya nggak kira-kira sih? Mana ada syiar Islam di
Piala Dunia. Meski ada kontestannya di ajang itu negeri muslim bernama
Al-Jazair, tapi saya kok nggak yakin syiar Islam bakalan bersinar di ajang itu.
Orang Islam memang banyak di sana, sama seperti di negeri kita. Tetapi
sepertinya cuma casing-nya
doang, sebab jeroannya udah bukan lagi pribadi Muslim sejati. Kamu bisa lihat
sendiri kan kelakuan mereka di stadion nonton pertandingan sepak bola? Mana
campur baur laki perempuan, ada pula yang membuka aurat dan beragam kemaksiatan
lainnya. Oopss.. bukan merasa diri sok suci dan sok alim, saya cuma ngingetin
bahwa kita seharusnya bisa membedakan mana cahaya mana gelap. Iya kan? Setidaknya
bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Tentu saja sambil berusaha
kita juga berbuat baik, dan hindari yang buruk. Bukan begitu? Sip!
Lalu di manakah syiar Islam itu? Aha! Di Ramadhan! Yes! Memang
musimnya syiar Islam ya di bulan Ramadhan. In sya Allah nggak sampe dua minggu
lagi kita bakalan ketemu Ramadhan. Bulan mulai penuh barokah dan semua hal bisa
jadi syiar Islam. Keren!
Eh, tapi apa bener sih, syiar Islam maraknya cuma di bulan
Ramadhan? Ya, setidaknya sudah ada, syukuri saja daripada nggak ada. Emang sih,
bagusnya sepanjang waktu, sepanjang hari, seminggu penuh, setiap bulan,
sepanjang tahun. Terus berjalan syiar Islam untuk memberikan seruan hangat dan
mencerahkan serta mengarahkan kaum muslimin ke jalan yang benar. Semoga ke depannya
begitu. Aamiin.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia Al-amiin. Kalo ditanya
syiar Islam yang marak ya memang umumnya di bulan Ramadhan. Tetapi kalo
ditanya, apakah selalu ada syiar Islam meski tidak semarak? Jawabannya tetap
ada. Semoga saja buletin kesayangan kamu ini yang saban pekan sejak 29 Oktober
2007 ini menemani kamu hingga sekarang nggak pernah absen sampai hari kiamat
untuk terus mensyiarkan Islam meski hanya seminggu sekali. Semoga pula tumbuh
buletin lainnya, atau kegiatan keislaman lainnya di sekolah, di kampus, di
kantor, di masjid, di perumahan-perumahan, di pusat-pusat keramaian meski bukan
di bulan Ramadhan. Wuih, keren banget membayangkannya saja. Kamu juga pasti
senang kan jika benar-benar terwujud?
Kitalah yang harus tetap mensyiarkan
Islam
Nggak usah ngadelin orang lain. Nggak perlu nunggu-nunggu orang
lain berjuang mensyiarkan Islam. Kita yang udah pada sadar ini segera bangkit
dan bergerak untuk menebarkan manfaat Islam dan hebatnya kehidupan umat manusia
jika diatur oleh syariat Islam. Islam tak lagi sekadar teori di buku-buku fikih
atau dipelajari di sekolah dan kampus, tetapi hadir di tengah masyarakat dalam
bentuk ril berupa penerapan syariat Islam oleh negara. Wah, rasanya bahagia itu
akan segera kita rasakan jika kita berjuang dengan konsisten untuk
mewujudkannya. Kamu mau kan berjuang untuk Islam? Nama kamu kan sudah islami,
masa’ sih kamu menolak syariat Islam?
So,
nggak usah khawatir meski sekarang banyak orang yang hanya peduli dengan
kampanye pilpres, yang egois karena cuma nyenengin diri mereka sendiri dengan
asik nonton sepak bola di hajatan piala dunia meski kudu begadang hampir
sebulan penuh. Hehehe.. ternyata rajin juga bangun malam kalo ada tayangan
sepak bola. Kalo bangun untuk shalat malam, kayaknya susah banget deh. Ya,
keimanan itu memang tak bisa dibeli atau diturunkan, tetapi memang harus dicari
dan dipelajari serta dikokohkan dengan takwa dan banyak beramal shalih. Hidayah
memang mahal, tak semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah. Bahkan umumnya
kudu ada perjuangan khusus dari diri kita untuk mendapatkannya. Keren kan
hidayah itu?
Sobat Al-amiin, mengapa kita yang harus mensyiarkan Islam? Ya
iyalah. Saya, kamu, dan semua kaum muslimin adalah bagian dari Islam. Sudah
sepantasnya mencintai Islam dan tentu saja berani memperjuangkan Islam. Paling
minimalkan banget adalah menghidupan Islam di dalam diri kita, di keluarga
kita, dan di masyarakat kita. Syukur-syukur bisa mencapai seluruh negeri ketika
Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Keren bingit!Sumpah! Bukan
sekadar bilang wow gitu lho.
Islam udah lengkap turun dan menjadi tuntunan bukan hanya buat
kaum Muslimin, tapi untuk semua manusia. Islam tuh rahmatan lil alamin alias rahmat bagi seluruh alam
(termasuk umat manusia). Tentu, jika manusia mau memahami Islam dengan benar
dan dari sumber yang benar. Sebagai Muslim, kayaknya kagak pantes banget kalo
kita nggak mau diatur oleh Islam dalam hidup ini. Allah Swt. menjelaskan dalam
firmanNya (yang artinya): “Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang
nyata.” (QS
al-Ahzab [33]: 36)
Hanya kepada Allah Ta’ala kita berharap dan memohon segala
pertolongan. Semoga kita semua diberkahi, dirahmati, dan senantiasa dilindungi
oleh Allah. Allah Ta’ala nggak bakalan salah dalam
mengkalkulasi amalan kita. Jadi, yuk sama-sama kita mensyiarkan Islam dan tentu
saja berjuang untuk membela Islam. Semoga keimanan, ketakwaan, keberanian,
keikhlasan, dan semangat juang senantiasa menjadi penggerak dakwah kita. Tentu,
agar Islam tetap bergema hingga akhir jaman.
Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya): “Perkara ini (Islam) akan merebak
di segenap penjuru yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan
satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya sehingga
dapat memuliakan agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang
dimuliakan adalah Islam dan yang dihinakan adalah kekufuran” (HR Ibnu Hibban)
Bro en Sis rahimakumullah, sampai paragraf barusan, apa yang ada
di benak kamu? Mau berhenti mencintai Islam, atau semakin cinta sama Islam?
Pilihan ada di tangan kamu. Tetapi saya menyarankan agar kamu tetap menjadi
muslim sejati, terus berupaya mengokohkan keimanan, tetap bertakwa, gemar
mencari ilmu dan rajin beramal shalih karena kamu tetap mencintai Islam. Iya,
kamu! Ok?
Nggak usah mikirin kampanye pilpres atau piala dunia. Sayang
banget kalo pikiran dan tenaga kita difokuskan kepada kedua hal itu. Tetapi,
jika ada yang tanya, memangnya kita nggak boleh sama sekali mikirin persoalan
kampanye pilpres dan piala dunia? Hehehe.. tepatnya bukan mikirin, tetapi
memperhatikan saja. Ya, kita boleh memperhatikan kedua hal itu, tetapi
sekadarnya saja sebagai bahan cerita kalo ada yang ngajak ngobrol di warung
kopi atau di kantin sekolah. Tetapi obrolanmu kudu membawa misi, yakni syiarkan
Islam di sela-sela obrolanmu tentang hiruk-pikuk kampanye capres dan
hingar-bingar piala dunia di Brasil sono.
Bener lho. Silakan saja mau nonton acara debat capres. Boleh-boleh
saja sebagai bahan wawasan kita mengetahui dan mengukur calon pemimpin negeri
ini dalam lima tahun ke depan. Sekadar nonton pertandingan pilihan di piala
dunia, silakan saja, sekadar hiburan. Tetapi ingat, jangan kebablasan—apalagi
ampe ninggalin kewajiban sebagai muslim. Sebab, tugas utama kita sebagai muslim
adalah mensyiarkan Islam. Kampanyekan kemuliaan Islam dan berharap semoga bisa
menaungi seluruh permukaan bumi ini dengan kalimat “laa ilaaha illallaah”.
Semangat! [FAJRI
| Twitter @mff_fajri]twitter.com/mff_fajri
0 komentar:
Posting Komentar