Assalammualaikum
Selamat pagi bro n
sis rahimakumullah sobat setia Al-amiin, udah dua minggu nih kita terpisahkan
oleh derasnya alur UKK (wkwk) , semoga nilainya memuaskan ya, dan jangan lupa
buat yang nilainya kurang memuaskan langsung perbaiki ke guru yang bersangkutan,
oke deh langsung aja deh masuk ke pembahasan materi kali ini, materi Al- amiin
kali ini adalah sebuah request dari sobat kita (hamba allah) yang temanaya itu
tentang “persahabatan dalam islam” nah langsung aja nih kita masuk ke materi ,
*chek this out*
Seorang teman atau
sahabat merupakan orang yang sangat penting dalam mengarungi samudera kehidupan
dunia ini. Gelombang kehidupan dunia yang terkadang ganas dan menghancurkan
segala sesuatu yang dilalui, akan terasa lebih ringan diarungi dengan hadirnya seorang
sahabat. Seorang sahabat yang selalu setia membantu, menasehati, dan membimbing
perjalanan hidup ini. Hingga berhasil taklukan ganasnya samudera duniawi.
Berapa banyak orang
yang meninggalkan sahabatnya ketika harta telah tiada. Berapa banyak orang
meninggalkan sahabatnya ketika cobaan silih berganti menimpa. Berapa banyak
orang yang meninggalkan sahabatnya ketika bertaruh nyawa. Berapa banyak pula
orang yang merubah posisi sahabat menjadi musuh hanya karena iming-iming dunia.
-wal iyadzubillah
Seorang
sahabat sejati akan selalu memberikan dukungan nyata, walau mengorbankan harta
dan nyawa. Seorang sahabat sejati tidak akan terpengaruh dengan adanya cobaan yang
mendera, walaupun cobaan itu menyakiti jiwa dan raga. Seorang sahabat sejati
akan selalu menasehati, di saat kita khilaf dan lupa. Merekalah sahabat sejati
yang rela berkorban membela agama, dalam keadaan suka dan duka.
Diibaratkan
sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lain. Diibaratkan pula
bagai satu tubuh yang akan merasakan sakit jika tubuh yang lain tersakiti,
itulah arti sahabat sejati dalam ukhuwah islami. Jika sahabat itu adalah
tangan, maka tangan itu akan menggunakan segala kemampuan untuk melindungi
anggota tubuh yang lain, walaupun darah tertumpah menjadi taruhan.
“Seorang
mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan
satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari – Muslim).
Nah dengerin tuh hadistnya (kelas XI) soalnya
hadist itu keluarkan di soal UKK agama ? (wkwk)
“Perumpamaan mukmin
dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh,
apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal
yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).
Inget ya ! bunyi
hadistnya itu “satu tubuh” gak pake “ber” (wkwk)
Seorang
sahabat sejati mengerti adab dalam sebuah ukhuwah yang islami. Tidak mencela,
tidak memanggil dengan gelar yang buruk, tidak berprasangka buruk, tidak
mencari-cari kesalahan, dan tidak pula menggunjing kejelekan orang. Dia
tidaklah mencintai sahabatnya kecuali dia mencintainya sebagaimana dia mencintai
dirinya sendiri.
“Tidak
beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia
mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).
“….Janganlah
kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan
gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (pangilan) yang buruk
(fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari
prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang
menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada
Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat:
11-12).
Seorang
sahabat sejati tidak akan mengumbar kejelekan sahabatnya. Dia akan selalu
menjaga dan menutup rapat aib-aibnya. Karena dia tahu, surga adalah balasan
yang tepat atas perbuatannya.
“Tidaklah
seseorang melihat aib saudaranya lalu dia menutupinya, kecuali dia akan masuk
surga.” (HR. Thabrani).
Seorang
sahabat sejati juga tidak akan segan untuk melepas tali persahabatan. Ketika
mengetahui sahabatnya telah pergi, jauh menyimpang dan tidak lagi mendengar
peringatan Ilahi (Al qur’an dan Assunnah). Sebagaimana seorang sahabat senior
Rasulullah Abdurohman bin Auf rodhiyallahu anhu yang bertempur saling
mengalahkan melawan umayyah bin kholaf dalam perang badar, hingga akhirnya
umayyah tewas di tangan Bilal yang tidak lain adalah mantan budaknya sendiri.
Padahal mereka berdua adalah dua orang yang bersahabat sebelum Islam datang.
Itulah generasi para sahabat, sebuah generasi yang disabdakan oleh Nabi
Muhammad sebagai generasi terbaik di muka bumi.
“kemanakah
ku pergi mencari… Duhai sahabat sejati
Arungi
samudera duniawi… Dengan bahtera ukhuwah islami”
Wahai
Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Wahai
Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepadamu.
Wallahu A’lam
Wassalammualaikum .
[“MFF” TWITTER :
@mff_fajri]
0 komentar:
Posting Komentar