
Remaja mana yang tak pernah mendengar istilah pacaran? Mulai
remaja perkotaan hingga pelosok desa, pasti pernah mendengar istilah ini. Tak
peduli apakah ia bersekolah di sekolah umum yang serba bebas hingga pesantren
yang identik dengan dunianya yang serba ketat dan terbatas. Semua pasti pernah
mendengar istilah ini. Termasuk mungkin kamu yang saat ini baru membaca buletin
Al-Amiin ini.
Lalu, dari sekian banyak remaja yang pernah mendengar
istilah pacaran ini, berapa banyak sih yang ikut ‘ambil bagian’ di dalamnya?
Baik itu para ‘eksekutor’ lapangan hingga simpatisannya? Jumlahnya ternyata
banyak sekali alias mayoritas. Tapi mudah-mudahan, kamu bukan termasuk di
dalamnya ya.
Sobat Al-Amiin, mungkin kamu bertanya-tanya, maksud
eksekutor dan simpatisan pacaran itu apaan? Kok pacaran saja ada eksekutor dan
simpatisannya? Bukankah eksekutor itu semacam algojo yang memenggal leher
orang? Sedangkan simpatisan itu kan biasanya ada ketika musim pemilu.
Ah, sebenarnya itu hanya istilah saya saja. Eksekutor itu
tepatnya pelaku utama pacaran. Dua orang yang katanya sedang dilanda cinta, dan
menyalurkan cintanya tidak pada tempat dan waktu yang tepat. Disalurkan dengan
rayu-rayuan, gandeng-gandengan, cipika-cipiki, hingga hubungan intim layaknya
suami istri. Padahal mereka belum menikah. Naudzubillah.
Sedangkan simpatisan adalah mereka yang tidak sedang aktif
melakukan pacaran karena berbagai sebab. Misalnya karena tidak laku, sudah
menikah, dilarang ortu, dan lain sebagainya. Tapi mereka ini keukeuh sekali
dalam menyebarkan dan mensosialisasikan ‘doktrin’ pacaran. Para simpatisan ini
bisa berasal dari berbagai kalangan dan usia. Misalnya saja, guru, teman,
bahkan kadang dari orang terdekat kita semisal saudara dan orang tua.
Maka berhati-hatilah. Eksekutor dan simpatisan pacaran ini,
selain saat ini mayoritas, mereka juga menyebar alias ada di mana-mana. Bisa di
sekolah, di kampus, di tempat kerja, di hotel, di kafe, di taman kota, di
ladang, di balik rimbunnya pohon pisang. Halah!
Yang jelas, mereka bisa saja berada sangat dekat denganmu.
Bisa sahabatmu hingga saudara dan orang tuamu. Mereka bisa saja makan satu meja
denganmu. Tapi dari lisan mereka keluar berbagai pertanyaan, pernyataan, dan
ajakan yang menggiring ke arah perbuatan nista bernama pacaran ini. Misalnya;
“segede ini kok masih jomblo?” Atau “Kami khawatir kamu jadi perawan tua.” Atau
“sebenarnya banyak yang naksir kamu.” Atau mungkin “Aku tak tega melihatmu
sendiri. Jadilah pacarku.”
Beuh! Lihatlah, pertanyaan, pernyataan, dan ajakan itu
seolah menebarkan aroma yang harum semerbak. Seolah menggambarkan simpati,
kepedulian, dan perhatian. Padahal ketahuilah kawan, semuanya itu sejatinya
hanyalah sampah belaka. Sampah beracun nan berbahaya yang jika engkau tergoda
menelannya mentah-mentah, maka jalan hidupmu akan terseok-seok dalam sebuah
jalan yang hina. Yang pada akhirnya akan menuntunmu dalam jurang kehancuran dan
penyesalan yang dalam.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra: 32)
Mungkin akan ada yang berkilah bahwa pacaran itu bukanlah
zina. Oke. Tetapi coba kita renungkan, akankah dua orang insan akan jatuh pada
zina seandainya mereka tidak pacaran? Akankah mereka akan jatuh pada perbuatan
zina jika sebelumnya mereka jarang bertemu, tidak pernah bersentuhan, tidak
pernah saling merayu, juga tidak pernah saling peluk dan cium? Jawabannya
tidak.
Maka berdasarkan ayat di atas, maka pacaran memang bukan
zina, tapi ia lebih ke arah perbuatan mendekati zina. Dan sebagaimana Allah
melarang zina, Dia juga melarang manusia dari perbuatan mendekati zina alias
pacaran ini. Boleh dikata, pacaran adalah pintu gerbang menuju zina.
Mengapa tetap pacaran?
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia Al-Amiin. Namun
sayang beribu sayang, meskipun Allah telah melarang manusia dari pacaran dan
melakukan zina, akan tetapi masih saja banyak yang ‘doyan’ melakukannya.
Menganggap segala larangan dan ancaman dari Allah sebagai angin lalu saja.
Seolah-olah mereka tidak pernah mendengar larangan berpacaran ini sebelumnya.
Okelah, mungkin bisa dimaklumi seandainya yang melakukan pacaran
adalah mereka yang tidak tahu bahwa pacaran itu haram. Tidak pernah mendapatkan
informasi bahwa Allah melarang perbuatan ini. Namun akan sangat disayangkan
jika yang melakukannya adalah mereka para remaja muslim yang pernah mendengar
perihal larangan mendekati zina ini. Masihkah ada di hatinya rasa takut pada
Allah Ta’ala? Ataukah mereka tidak sadar bahwa perbuatan ini tak ubahnya
sebagai bentuk pembangkangan terhadap Pencipta mereka?
Mari kita ambil sebuah perumpamaan. Taruhlah misalnya ayah
kita melarang kita merokok. Namun perintah itu malah kita abaikan. Kita malah
merokok dan mengembuskan asapnya tepat di wajah ayah kita itu. Maka apa
maknanya itu?
Maknanya adalah, kita menganggap adanya ayah kita sama
dengan tidak adanya. Itu juga salah satu bentuk pembangkangan. Seolah-olah kita
berkata pada ayah kita, “Siapa loe? Berani nglarang gue.”
Begitu pula dengan larangan Allah. Ketika Allah Ta’ala sudah
melarang sesuatu dan kita tetap melakukannya, maka itu sama artinya kita
menyepelekan Allah. Menganggapnya tidak ada. Atau menganggapnya ada tapi
sengaja membangkang pada-Nya. Maka kalau sudah seperti ini, apa bedanya kita
dengan iblis laknatullah alaih?
Padahal, Allah Ta’ala menurunkan Islam ini bukanlah untuk
membuat susah hidup manusia. Islam ini diturunkan ke bumi sebagai bentuk nyata
kecintaaan Allah pada manusia. Jika Allah memerintahkan sesuatu, maka pasti ada
kebaikan di balik sesuatu itu. Begitu pula ketika Allah melarang sesuatu, pasti
ada suatu bahaya atau hal-hal negatif yang akan terjadi manakala manusia
melanggar larangan itu.
Begitu pula dengan pacaran ini. Allah Ta’ala melarang
aktivitas ini karena ia menyimpan bahaya. Bahaya yang bisa saja menimpa manusia
di dunia, lebih-lebih bahaya yang akan menimpanya ketika di akhirat.
Taruhlah di dunia seorang remaja melakukan pacaran. Maka
yang pertama terenggut darinya adalah kesucian dan harga diri. Ia telah
membiarkan harga dirinya diacak-acak dengan membiarkan orang asing yang masih
bukan siapa-siapanya menyentuh dirinya atau bahkan lebih dari itu. Jika sudah
seperti ini, maka ibaratnya, istri atau suami kita yang sesungguhnya kelak
hanya akan menerima bekasnya alias sisa-sisanya saja.
Belum lagi ketika terjadi kehamilan di luar nikah. Karena
belum ada ikatan pernikahan, maka biasanya rasa tanggung jawab rendah sekali
atau bahkan hilang. Akhirnya terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Hal yang
pertama terjadi biasanya aib atau cap buruk dari masyarakat. Masyarakat akan
memandang seorang perempuan yang hamil di luar nikah adalah perempuan murahan
yang hina.
Persoalan akan semakin runyam manakala si pacar yang
menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Banyak kasus hamil di luar nikah
yang mana pasangan laki-lakinya memillih kabur. Hilang entah ke mana.
Maka pada akhirnya, banyak perempuan yang memilih jalan
menggugurkan kandungannya alias aborsi. Menghancurkan dan mengeluarkan janinnya
secara paksa. Membuatnya berakhir di tempat sampah.
Padahal bagaimana pun juga, aborsi ini sama saja dengan
membunuh. Menghilangkan nyawa dari makhluk kecil yang tidak tahu apa-apa. Tidak
tahu sebab musabab kenapa dia harus dibunuh. Padahal kedua mata mungilnya saja
belum sempat terbuka dan memandang dunia ini. Kejam sekali, bukan?
Itu baru contoh bahaya yang yang akan didapatkan di dunia.
Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal buruk yang akan didapatkan di dunia. Belum
lagi bahaya yang menunggu di akhirat. Melanggar larangan Allah, bukanlah
sesuatu hal yang sepele. Allah Maha Adil. Jauh lebih adil dari hakim mana pun
di dunia ini. Dia tidak akan melewatkan pelanggaran sekecil apa pun. Akan
membalasnya dengan siksa-Nya yang pedih.
Maka sebelum semuanya terlambat, sebelum napas sampai di
kerongkongan, ayo tinggalkan perbuatan mendekati zina alias pacaran ini.
Sungguh sobat, bahaya atau mudharatnya itu sangatlah besar. Tidak hanya bahaya
di dunia, belum lagi bahaya di akhirat.
Sobat Al-Amiin, bertobatlah segera. Jika saat ini kamu
sedang mencintai seseorang dan berpacaran dengannya, maka segeralah menikah
dengannya. Atau jika tidak, segera tinggalkan pacarmu itu. Putuskan
hubungannya. Mari mendekat pada-Nya. Pasti kamu akan selamat. Selamat di dunia,
lebih-lebih lagi selamat di akhirat.
Dan buat kamu yang hingga saat ini belum pernah berpacaran,
pertahankan prestasimu itu. Jangan pernah sekalipun tergoda dengan bujuk rayu
gombal nan manis. Menjomblo itu jauh lebih baik daripada menjerumuskan diri
dalam pacaran. Karena sekali lagi ingatlah, pacaran itu bahaya.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia Al-Amiin. Daripada
kamu sibuk dalam persoalan yang hina dan nista itu, sangat baik bila fokuskan
jalan hidupmu untuk beribadah dan belajar dengan baik. Tuntutlah ilmu setinggi
mungkin. Jadilah remaja yang shaleh/shalehah yang penuh dengan taburan prestasi.
Baik itu prestasi di sekolah, maupun prestasi ibadah kepada Allah. Jika kamu
bisa menjalaninya dengan benar dan baik, insya Allah kamu akan mendapatkan masa
depan yang gilang gemilang. Prestasi hebat yang membanggakan. Baik itu masa
depan di dunia maupun masa depan di akhirat. Oke? Siap! [ASEP| @asepdarmawn]
0 komentar:
Posting Komentar