Assalammualaikum,,,,
Selamat pagi Bro n Sis Rahimakumullah … seperti biasa hari jum’at
pagi ini Insyaallah kita akan sedikit memberi ilmu buat para siswa/siswi SMAN 4
KARAWANG Pecinta Berat Al-amiin , hmmm… di pagi hari ini kita akan ngebahas
tema yang di request oleh BOOM Center (Fotocopy yang di samping itu lho.)
temanya itu tentang PENTINGNYA MENJAGA
LISAN. Check this out !!!!
Lisan merupakan salah
satu nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Lisan merupakan anggota badan
manusia yang cukup kecil jika dibandingkan anggota badan yang lain. Akan
tetapi, ia dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penduduk surga atau
bahkan dapat menyebabkan pemiliknya dilemparkan ke dalam api neraka.
Oleh
karena itu, sudah sepantasnya setiap muslim memperhatikan apa yang dikatakan
oleh lisannya, karena bisa jadi seseorang menganggap suatu perkataan hanyalah
kata-kata yang ringan dan sepele namun ternyata hal itu merupakan sesuatu yang
mendatangkan murka AllahTa’ala.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Sungguh
seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun
dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan
derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang
mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab
perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wajibnya Menjaga Lisan
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.” (QS.
Al-Isra: 36)
Qotadah
menjelaskan ayat di atas, “Janganlah kamu katakan ‘Aku melihat’ padahal kamu
tidak melihat, jangan pula katakan ‘Aku mendengar’ sedang kamu tidak mendengar,
dan jangan katakan ‘Aku tahu’ sedang kamu tidak mengetahui, karena sesungguhnya
Allah akan meminta pertanggung-jawaban atas semua hal tersebut.”
Ibnu
katsir menjelaskan makna ayat di atas adalah sebagai larangan untuk
berkata-kata tanpa ilmu. (Tafsir
Ibnu Katsir)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pun
bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir maka katakanlah
perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)
Imam
Asy-Syafi’i menjelaskan makna hadits di atas adalah, “Jika engkau hendak
berkata maka berfikirlah terlebih dahulu, jika yang nampak adalah kebaikan maka
ucapkanlah perkataan tersebut, namun jika yang nampak adalah keburukan atau
bahkan engkau ragu-ragu maka tahanlah dirimu (dari mengucapkan perkataan
tersebut).” (Asy-Syarhul
Kabir ‘alal Arba’in An-Nawawiyyah)
Jangan
Ngomong Dengan Bahasa KOTOR
Nah… bicara soal yang ini, sepertinya sangat sulit sekali ya
untuk menghindarinya, karena omongannya itu keluar secara refleks tapi jika
kita udah membiasakan untuk bicara dengan behasa yang bersih pasti kata-kata
kotor itu ga bakal keluar, bahasa kotor itu yang mana ya ??? itu lho yang
kata-katanya keluar saat kita marah atau kesal, pasti yang keluar itu seluruh
isi “Kebun binatang” mungkin ga perlu di sebutin juga ya contohnya.
NEXT …
Ciri Muslim yang Baik
Termasuk tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia mampu
meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.
Sebagaimana
yang telah dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang
diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu,
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang
adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.”
Oleh
karena itu, termasuk di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia menjaga lisannya
dan meninggalkan perkataan-perkataan yang tidak mendatangkan manfaat bagi
dirinya atau bahkan perkataan yang dapat mendatangkan bahaya bagi dirinya.
Bahaya Tidak Menjaga Lisan
Salah
satu bahaya tidak menjaga lisan adalah menyebabkan pelakunya dimasukkan ke
dalam api neraka meskipun itu hanyalah perkataan yang dianggap sepele oleh
pelakunya. Sebagaimana hal ini banyak dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallamsalah satunya adalah hadits yang telah disebutkan
di atas.
Atau
dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu
‘anhuketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang
amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka,
kemudian Rasulullahshallallahu
‘alaihi wa sallam menyebutkan
tentang rukun iman dan beberapa pintu-pintu kebaikan, kemudian berkata
kepadanya: “Maukah kujelaskan kepadamu tentang
hal yang menjaga itu semua?” kemudian
beliau memegang lisannya dan berkata: “Jagalah ini” maka aku (Mu’adz) tanyakan: “Wahai
Nabi Allah, apakah kita akan disiksa dengan sebab perkataan kita?” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: “Semoga
ibumu kehilanganmu! (sebuah ungkapan agar perkataan selanjutnya
diperhatikan). Tidaklah manusia tersungkur di neraka
di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan
mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Imam
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata mengenai makna hadits
di atas, “Secara dzahir hadits Mu’adz tersebut menunjukkan bahwa perkara yang
paling banyak menyebabkan seseorang masuk neraka adalah karena sebab perkataan
yang keluar dari lisan mereka. Termasuk maksiat dalam hal perkataan adalah
perkataan yang mengandung kesyirikan, dan syirik itu sendiri merupakan dosa
yang paling besar di sisi Allah Ta’ala. Termasuk maksiat
lisan pula, seseorang berkata tentang Allah tanpa dasar ilmu, ini merupakan
perkara yang mendekati dosa syirik. Termasuk di dalamnya pula persaksian palsu,
sihir, menuduh berzina (terhadap wanita baik-baik) dan hal-hal lain yang
merupakan bagian dari dosa besar maupun dosa kecil seperti perkataan dusta,
ghibah dan namimah. Dan segala bentuk perbuatan maksiat pada umumnya tidaklah
lepas dari perkataan-perkataan yang mengantarkan pada terwujudnya (perbuatan
maksiat tersebut). (Jami’ul
Ulum wal Hikaam)
Buah menjaga lisan
Buah
menjaga lisan adalah surga. Sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallambersabda,
“Barangsiapa
yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan
apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya
surga.”(HR. Bukhari)
Oleh
karena itu wajib bagi setiap muslim untuk menjaga lisan dan kemaluannya dari
perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, dalam rangka untuk mencari
keridhaan-Nya dan mengharap balasan berupa pahala dari-Nya. Semua ini adalah
perkara yang mudah bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala.
(Kitaabul Adab)
Nah… Ketika kita telah
mengetahui bahaya yang timbul akibat tidak menjaga lisan, dan kita pun telah
mengetahui bagaimana manisnya buah menjaga lisan, sudah sepantasnya kita selalu
berfikir sebelum kita mengucapkan suatu perkataan. Apakah kiranya perkataan
tersebut akan mendatangkan keridhaan Allah Ta’ala atau bahkan sebaliknya ia akan
mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala. Cukuplah kita
selalu mengingat firman Allah Ta’ala (artinya):
“Tiada
suatu ucapan yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang
selalu hadir.” (Qaaf:
18).
Juga
firman Allah Ta’ala (artinya):
“Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.” (QS.
Al-Isra: 36)
Semoga
Allah Ta’ala senantiasa meluruskan lisan-lisan kita, memperbaiki amalan-amalan
kita dan memberikan kita taufik untuk mengamalkan perkara yang Dia cinta dan
Dia ridhai. “Waullahualam bishawab”. Wassalammualaikum...
[MFF│@MF_fadhillah] www.alamiinrohissman4.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar