Assalamua’alaikum..
   Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia Al-Amiin. Alhamdulillah bisa ketemuan lagi melalui jembatan komunikasi kita apa lagi kalau bukan buletin Al-amiin kesayangan kalian . Kali ini kita akan membahas tentang Kemusyrikan sosial yang merajalela, yo langsung kita simak aja,
   Sobat Al-Amiin yang dirahmati Allah, Alkisah ada seorang kyai yang terkenal sangat taat. Ia tinggal di sebuah hutan yang berdekatan dengan desa suku primitif. Para penduduk desa tersebut menyembah sebuah pohon besar yang tumbuh di tengah desa mereka. Suatu hari, sang kyai memutuskan untuk menebang pohon tersebut. Ia ingin menunjukan kepada mereka bahwa apa yang mereka sembah bukanlah apa-apa selain ciptaan Tuhan, dan bahwa mereka harus menyembah Tuhan bukan pohon.
   Saat ia berjalan menuju hutan tersebut, seorang pria mencegahnya dan menanyakan, Ila aina anta? Mau kemana kamu?
Ana adzhabu ila tikas syajarah. Demi Tuhan, aku akan menebang pohon yang disembah oleh suku yang hidup di tengah hutan.
            “itu suatu kesalahan” pria tersebut mengingatkan.
            “siapakah kau hingga berhak mengatakan apa yang harus aku lakukan? Tanya si penebang kayu.
            “aku adalah Iblis dan aku tak akan membiarkan dirimu menebang pohon tersebut”
   Kyai itu pun marah. Ia menarik sang Iblis dan membantingnya ke tanah, dan melekatkan kampaknya ke leher sang Iblis.
Iblis itu pun berkata,”kau bersikap tidak masuk akal. Suku tersebut tak akan membiarkan mu menebang pohon suci mereka. Bahkan jika kau mencoba melakukannya, mereka mungkin akan membunuhmu, Istrimu akan menjadi janda dan anakmu akan menjadi yatim.  Bahkan jika kau berhasil dan selamat, mereka akan memilih pohon yang lain untuk disembah.
   Iblis terus berbicara dengan logika dan akal. Masing masing kita pernah mendengar suara bathiniah,yang giat mendebat melawan kebaikan yang kita kerjakan.
Iblis tersebut melanjutkan”aku akan membuat penawaran denganmu. Aku tahu kau adalah seorang miskin, namun kau taat dengan sebuah keluarga yang besar, dan kau senang membantu orang lain. Setiap pagi aku akan menaruh dua kon emas. Selain terhindar dari bahaya pembunuhan dan tidak memperoleh apapun, kau dapat menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan keluargamu.
   Penebang kayu tersebut menyetujuinya. Keesokan paginya, ia menemukan dua koin emas di bawah tempat tidurnya. Ia membeli makanan dan pakaian baru untuk keluarganya dan membagikannya pada orang-orang miskin. Pada pagi berikutnya, penebang kayu tersebut tidak menemukan apapun.
   Merasa berang dengan penghianatan sang iblis, si penebang kayu mengambil kapaknya dan bersiap untuk pergi menebang pohon tersebut.
  Sang iblis kembali mencegahnya, sambil tersenyum ia berkata”Kau akan pergi kemana?”
            “penipu,pembohong! Aku akan menebang pohon itu!” jawab sang Kyai.
   Iblis menyentuh dada si penebang kayu dengan satu jarinya. Sang Kyai terjatuh ke tanah, pingsan akibat kekuatan sentuhan tersebut. Lalu, Iblis menyentuh dada sang Kyai dengan satu jarinya dan menekannya ke tanah. Sang Iblis berkata”kau ingin aku membunuhmu?” Dua hari lalu kau akan membunuhku. Berjanjilah, kau tak akan menebang pohon tersebut.”
   Si penenbang kayu menjawab, “aku berjanji tidak akan menebang pohon tersebut. Katakanlah satu hal padaku, dua hari lalu aku mengalahkan mu dengan mudah. Darimana kau mendapatkan kekuatan yang luar biasa pada hari ini?
   Sang Iblis tersenyum kembali, “ saat itu kau akan menebang pohon tersebut karena ikhlas semata-mata karena Allah. Namun, hari ini kau berkelahi denganku karena dilatarbelakangi oleh kekecewaanmu tentang dua koin emas!
   Cerita yang banyak dikutip dalam kitab klasik ini mengisahkan tentang perilaku kita semua. Berapa kalikah kita telah membodohi diri kita dengan berpikir bahwa kita bertindak dengan ketulusan yang sempurna , sementara kenyataanya motivasi kita tidaklah begitu murni ?
   Memang kemurnian niat merupakan syarat awal suksesnya perjuangan. Karena nilai suatu perbuatan ditentukan dari niatnya.
   Pembaca setia Al-Amin, hal yang seperti haruslah kita renungkan sebagai pembelajaran untuk diri kita, karena ragam gagasan yang sangat mengesankan di era reformasi ini bukan tidak mungkin motif dan orientasi gerakan-gerakannya berupa tuhan-tuhan kecil semata. Yakni “tuhan-tuhan yang sengaja dibangun,seperti kepentingan pribadi,kelompok,partai,karier politik,bisnis,balas dendam atatupun kedudukan.
   Seperti sang Kyai di atas, bisa jadi kita terbebas dari kemusyrikan menyembah pohon. Namun, bukankah ketika Al-Qur’an berbicara tentang “tandingan” terhadap Tuhan(andad,kemusyrikan) tidak saja menyembah berhala(Q.S 6:74,7:138;21:52), benda langit (Q.S 41:37) juga mencintai secara berlebihan (Q.S 2:165)
   Dalam konteks ini, manifestasinya bisa berupa sikap yag sama sekali tanpa reserve terhadap ulama(Q.S 9:31), atau fanatisme golongan,aliran,etnis atau juga organisasi yang berlebihan(Q.S 23:52-53,30:31-32), al-Qur’an juga mencontohkan saingan Tuhan dengan kecintaan kita terhadap keluarga,kerabat,kekayaan(Q.S 9:24). Lebih dari itu kita telah menuhankan hawa nafsu kita sendiri(Q.S 25:43)
   Kita sering gagal melepaskan diri dari bentuk kemusyrikan sosial ini. Ridha Tuhan tidak lagi menjadi pusat orientasi kita, maka kualitas motivasi kehidupan kita jadi rendah karena demi kepentingan duniawi. Kita pun sering menyaksikan berbagai kerusakan terjadi di muka bumi, seperti tindak kekerasan,kezaliman,korupsi,konflik elite politik dll.
   Satu hal yang menarik dari cerita penebang pohon itu adalah gara-gara koin emas alias uang. Ada pergeseran dari ketuhana yang maha esa ke keuangan yang maha kuasa. Dari monotheism ke moneytheism. Dikisahkan Iblis mengumpulkan bala tentaranya setiap pagi. Dia menyampaikan kabar gembira kepada mereka, “ siapa yang bisa menyesatkan seorang muslim hari ini,akan kuberi mahkota dari emas”
  Bertebaranlah bala tentara Iblis ke berbagai tempat. Mereka bekerja seharian dengan segenap kemampuan, keetika pulang ke markas, setiap tentara melaporkan hasil pekerjaan nya kepada iblis.
            Tentara pertama melapor,”Aku senantiasa mengoda si Fulan hingga dia menceraikan Istrinya”
  “Tidak lama lagi dia akan rujuk dengan Istrinya” komentar Iblis
            Tentara berikutnya melapor,”Aku senantiasa meggoda si Fulan sehinggga dia mendurhakai ke dua orang tuanya”
   “Sebentar lagi dia bakal berbakti kepada ke dua orang tuanya” jawab Iblis
            Tentara ketiga melapor”Aku tak henti-hentinya menggoda si Fulan sampai dia menenggak minuman keras,lalu berzina,mencuri dan membunuh”
   Iblis berkomentar “Bagus mendekatlah padaku. Kamulah yang memenangkan mahkota ini.”
   Konon Iblis memegang dinar(uang) dan meletaknnya di mata. Dia berkata kepad dinar”kamu adalah penyejuk mata dan buah hatiku. Denganmu aku menggoda manusia agar berbuat jahat dan beraku keji. Denganmu aku menebarkan fitnah dan denganmu juga aku memasukan anak cucu Adam ke neraka Jahanam.
  Barangkali cerita ini hanyalah metaforik dari para ulama. Namun, kita melihat betapa kuasanya uang dalam kehidupan nyata. Peranan uang berkembang melebihi batas fungsinya yang semula sebagai alat tukar. Ia bisa mengatur segala sesuatu, sekedar contoh, dalam kehidupan sosial kita muncul suatu fenomena-apa yang disebut sosiolog sebagai lingkaran venalitas(menyuap) wah hampir-hampir KKN nih.
   Gejala venalitas menunjuk pada keadaan di mana uang juga dipakai untuk membayar sesuatu yang pada hakikatnya tak bisa dibeli dengan uang. Ijazah sekolah misalnya, menjadi tanda bahwa seseorang telah menamatkan suatu tingkat pengajaran tertentu, Ijazah ini hanya bisa dibayar dengan kelulusan seseorang dalam ujian. Kalau Ijazah dibeli dengan uan, maka disana terjadi venalitas yang pada gilirannya menimbulkan venalitas yang lain.
  Kalau kepercayaan orang terhadap Ijazah sekolah menurun maka dalam lamaran kerja keabsahan dan keasliannya akan dipertanyakan orang. Kalau udah kaya gitu kita akan mengeluarkan uang untuk menyogok kepala personalia di sebuah kantor supaya mengakui dan menerima Ijazah tersebut asli, Astagfirullah,, bener-bener rusak, jangan sampe di tiru oke.
  Dalam keputusan politik pun tidak lepas dari yang namanya venalitas, venalitas di sini menyebabkan bahwa setiap keputusan politik menjadi berbelit-belit dan mengakibatkan sesuatu yang gk perlu, waduhh wajar aja ya negara kita jadi ancur-ancuran kaya begini.Naudzubillah hi min dzalik.
   Karena itu saatnya kita camkan peringatan Nabi kepada semua umatnya sepanjang sejarah,”Untuk setiap umat terdapat perselisihan,perseteruan, dan bencana(fitnah), dan untuk umatku, sumbernya adalah uang” (HR.Muslim) 
So myfriend learn to worship which is based on the basis of the love to Allah [Twitter: @Rama_Sutopo]

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top